Kultum : Kisah Sahabat Rasulullah, Julaibib
إِنَّ ٱلْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ ٱللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah ﷻ yang telah memberikan kita kesempatan untuk kembali menikmati bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan rahmat. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah di jalan Islam.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Pada kesempatan kali ini, mari kita mengambil pelajaran dari kisah seorang sahabat Rasulullah ﷺ yang mungkin jarang kita dengar namanya, yaitu Julaibib radhiyallahu ‘anhu. Ia bukan seorang pemuka Quraisy, bukan pula saudagar kaya. Ia hanyalah seorang lelaki miskin, yatim, tidak memiliki keturunan bangsawan, dan dianggap rendah oleh masyarakat. Namun, di sisi Allah, ia memiliki kemuliaan yang luar biasa.
1. Kesabaran dalam Menghadapi Ujian
Julaibib hidup dalam keterbatasan, baik secara ekonomi maupun sosial. Orang-orang sering memandangnya sebelah mata. Namun, hal itu tidak membuatnya berputus asa atau marah. Ia tetap bersabar dan teguh dalam keimanannya.
Dari sini kita belajar bahwa kehormatan seseorang tidak diukur dari harta atau kedudukan, tetapi dari ketakwaannya kepada Allah. Di bulan Ramadhan ini, mari kita perbaiki cara pandang kita terhadap sesama. Jangan menilai seseorang dari duniawinya saja, tetapi lihatlah dari amal dan keimanannya.
2. Ketaatan dan Keimanan yang Kokoh
Suatu hari, Rasulullah ﷺ bertanya kepada seorang sahabat dari keluarga terhormat, “Apakah engkau mau menikahkan putrimu?” Sahabat itu menjawab, “Tentu saja, ya Rasulullah.” Namun, ketika Rasulullah ﷺ berkata bahwa calon suaminya adalah Julaibib, sahabat itu terdiam. Ia ragu, sebab Julaibib bukanlah pria kaya atau terpandang.
Namun, putri sahabat tersebut berkata, “Wahai ayah, jika Rasulullah ﷺ menghendakinya, maka aku pun menerimanya.” Akhirnya, Julaibib pun menikah dengan wanita shalihah tersebut.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa kebahagiaan rumah tangga bukan terletak pada harta atau status sosial, tetapi pada keberkahan dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Di bulan Ramadhan ini, mari kita perbaiki niat dalam segala hal, termasuk dalam membangun keluarga yang penuh keberkahan.
3. Kesetiaan dan Pengorbanan di Jalan Allah
Julaibib adalah seorang pejuang Islam yang setia. Dalam sebuah pertempuran, Rasulullah ﷺ mencari Julaibib setelah perang usai. Ternyata, ia ditemukan telah gugur dalam keadaan syahid, dengan tubuh penuh luka setelah berhasil membunuh tujuh musuhnya.
Melihat hal itu, Rasulullah ﷺ bersabda:
نَقَتَلَ سَبْعَةً ثُمَّ قُتِلَ، هُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ.
"Dia telah membunuh tujuh orang sebelum akhirnya dia terbunuh. Dia bagian dariku, dan aku bagian darinya." (HR. Muslim)
Lalu, Rasulullah ﷺ sendiri yang menggali kuburnya dan meletakkan Julaibib di liang lahad dengan tangannya sendiri.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa penghargaan sejati bukan berasal dari manusia, tetapi dari Allah dan Rasul-Nya. Meskipun Julaibib tak dikenal oleh banyak orang, namun di sisi Allah, ia adalah orang yang mulia.
Penutup
Hadirin yang dirahmati Allah,
Kisah Julaibib mengajarkan kita banyak hal: kesabaran dalam menghadapi ujian, ketaatan kepada Rasulullah ﷺ, serta keberanian dan pengorbanan dalam perjuangan di jalan Allah. Meskipun ia tidak memiliki harta dan kedudukan, namun ia memiliki kemuliaan di sisi Allah dan Rasul-Nya.
Di bulan Ramadhan ini, mari kita mengambil ibrah dari Julaibib. Jangan pernah merasa rendah diri karena dunia, karena kemuliaan sejati adalah di sisi Allah. Tingkatkan keimanan, ketaatan, serta semangat dalam beribadah dan berbagi kepada sesama.
Semoga kita semua termasuk golongan hamba-hamba yang dicintai Allah sebagaimana Julaibib radhiyallahu ‘anhu.
Wa billahi taufiq wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Diskusi